Minggu, 30 Mei 2021

 KRITIK / ESAI PUISI “SAJAK PALSU” KARYA AGUS R. SARJONO 

SAJAK PALSU

Agus R. Sarjono

. pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998


UNTAIAN KRITIK / ESAI PUISI “SAJAK PALSU” KARYA AGUS R. SARJONO

Puisi di atas merupakan sebuah karya sastra dari seorang penyair yang bernama Agus R. Sarjono yang lahir di Bandung pada tanggal 27 Juli 1962. Berbicara mengenai sajak atau puisi itu merupakan sebuah ungkapan yang berasal dari imajinasi pengarang atau penyair yang ingin memberikan gambaran tentang suatu kejadian, memberikan ungkapan dari segala isi hatinya, atau bahkan memberikan gambaran terhadap sosok dirinya sendiri dan lain sebagainya. Begitu pula dalam puisi yang berjudul “Sajak Palsu” yang ditulis oleh Agus R. Sarjono di atas merupakan sebuah suguhan dari salah satu realita yang terjadi di dalam negara Indonesia. Melalui puisi yang ditulis tersebut penyair hendak memotret kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan, instansi pemerintahan serta dalam dunia kerja yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan.

Di dalam membaca kutipan puisi di atas, Ada hal yang cukup menggilitik jiwa dan raga saya sebagai mahasiswa yang melakukan studi pada jurusan pendidikan ini, mengingat dalam puisi tersebut terdapat sindiran keras yang dilontarkan terhadap seorang guru yang penuh dengan kepalsuan terhadap apa yang ia berikan terhadap muridnya sehingga kelak melahirkan sosok-sosok yang penuh dengan kebohongan yang dapat menghancurkan Negara.

Bentuk sindiran yang dilontarkan dalam puisi tersebut menitikberatkan kepada peran dari seorang guru dan orang tua murid yang sering terjadi di Indonesia. Pada saat di dalam kelas, tentu seorang guru berperan sebagai pengajar dan pendidik yang melakukan tugas sesuai dengan aturan dan peran sebagai seorang pengajar. Namun diluar kelas, mereka seolah-olah tidak memiliki atau tidak ingat peranannya sebagai pengajar. Hal itu dapat dilihat dari penilaian guru yang tidak berbasis kinerja sehingga terkadang karena malas berpikir, dan lemah iman sehingga satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah memalsukan nilai akibat mendapat tuntutan dari orang tua yang memiliki ambisi agar anaknya cepat memperoleh ijazah sebagai tanda kelulusan. Dari sinilah lahirlah pemikiran sesat yang mengakui bahwa ijazah dengan nilai tinggi adalah segalanya dalam hidup yang menganggap bahwa setelah memperoleh ijazah maka persoalan hidup telah selesai. Seringkali yang diagungkan oleh guru hanyalah nilai yang tertera di dalam ijazah tanpa harus melihat bagaimana proses atau cara untuk memperoleh ijazah tersebut.

Namun, sebagai mahasiswa yang bergelut di dunia pendidikan, saya memberikan tanggapan bahwa dengan adanya kritikan dan lontaran pedas yang disampaikan oleh penyair melalui puisi di atas dapat menigkatkan kejelasan niat serta tujuan menjadi seorang guru bahwa menjadi seorang guru merupakan seseorang yang nantinya akan menentukan masa depan orang lain khususnya bagi generasi muda yang nantinya menjadi penentu bagi berjalannya sebuah Negara agar tidak terpuruk sehingga kejujuran harus ditegakkan agar Negara tidak mengalami kehancuran. Selain itu, adanya puisi tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk guru yang ada di Indonesia untuk dapat membuktikan bahwa guru mampu mempertahankan gelarnya sebagai pahlawan tanda jasa serta dapat memajukan pendidikan di Indonesia.

 

 

Minggu, 23 Mei 2021

 Kritik / Esai Puisi Wiji Thukul

Berbicara mengenai puisi Wiji Thukul, saya akan terlebih dahulu menjelaskan siapa Wiji Thukul itu? Wiji Thukul merupakan seorang aktivis yang bergerak pada masa rezim orde baru yang lahir pada tanggal 26 Agustus pada tahun 1963 di kampung Seragen, Solo. Wiji Thukul merupakan seorang yang tidak pernah menuyerah dalam melawan penindasan serta ketidakadilan yang menimpah kaum bawah. Melalui karya-karya yang ia tulis, beliau menyampaikan aspirasi-aspirasi masyarakat yang sebelumnya tidak pernah didengarkan oleh pemerintah sebelumnya. Wiji Thukul merupakan seorang yang pemberani dan tidak takut kepada siapapun dalam membela kaum marjinal yang dilecehkan oleh para penguasa. Bahkan ia berani melawan rezim orde baru yang pada saat itu keadailan sudah tidak lagi ditegakkan dan justru banyak pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah. Adapun puisi yang akan saya ulas adalah dua puisi karya Wiji Thukul di antaranya, puisi pertama yang berjudul “Peringatan” dan puisi kedua yang berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”.  

Pertama, Puisi yang berjudul “Peringatan” yang ditulis oleh Wiji Thukul merupakan sebuah puisi yang menceritakan tentang lontaran sebuah kritik pedas atau dapat pula diartikan sebagai sebuah kecaman terhadap pemerintahan pada masa itu yaitu pada masa pemerintahan Soeharto. Mengingat pada masa itu rakyat harus tunduk terhadap sang penguasa serta tidak dapat menyampaikan pendapat atau kritik apapun secara bebas karena apabila rakyat menyampaikan aspirasinya yang mengandung kritik maka pemerintah tidak segan-segan akan untuk mengasingkan atau bahkan menghilangkan rakyat yang memberikan kritik tersebut. sikap pemerintah yang ditujukan kepada rakyat pada masa itu tentu justru menjadikan ruang gelap bagi negeri sendiri. Mengingat pada masa itu rakyat tidak bisa lagi mempercayai pemimpin, mulut rakyat dibuat bungkam, kebenaran tidak dapat diperoleh, sehingga tentu dengan adanya kebijakan yang hanya menguntungkan penguasa itu hanya akan membuat negara tidak memiliki tujuan. Untuk itu, adanya puisi yang berjudul “Peringatan” ini, Wiji Thukul yang saat itu beliau adalah seorang aktivis hendak mengajak rakyat untuk memberikan perlawanan terhadap pemerintah yang tidak dapat memberikan keadilan terhadap rakyat bahkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan justru mengekang rakyat dan menodai bangsa.

  Kedua, puisi yang berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” merupakan sebuah puisi yang masih sama dengan puisi yang pertama, yaitu sama-sama memberikan respon terhadap sikap para penguasa dalam pemerintahan pada masa orde baru.  puisi yang berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” ini menceritakan tentang seorang penguasa dalam pemerintahan Indonesia pada masa itu yang semestinya memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas namun tidak mau mengamalkan ilmunya demi kebaikan, bahkan justru membuat komplotan guna mementingkan serta menguntungkan dirinya sendiri sehingga hal itu berdampak pada tertindasnya rakyat dan tidak pula mendapatkan keadilan. Namun, dalam puisi ini Wiji Thukul selaku seorang yang menulis puisi tersebut hendak menyampaikan pesan pula kepada para generasi muda bahwa ketika kita memperoleh ilmu setinggi apapun hendaklah kita memanfaatkan serta mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh untuk hal-hal yang baik, dan tidak justru memanfaatkan ilmu untuk tujuan merugikan orang lain mengingat keberadaan ilmu sejatinya dapat dijadikan sebagai penerang atau cahaya yang dapat menerangi kegelapan atau ketidaktahuan.

Minggu, 16 Mei 2021

Kritik / Esai Puisi karya Sutadji Calzoum Bachri

IDUL FITRI

Sutadji Calzoum Bachri

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

 

Esai Puisi yang berjudul “Idul Fitri”

Karya Sutadji Calzoum Bachri

 

Puisi yang berjudul “Idul Fitri” di atas merupakan sebuah karya sastra yang ditulis oleh penyair yang cukup terkenal yang juga mendapat julukan sebagai Presiden Penyair Indonesia. Sebagaimana yang tertera dalam judul pada puisi di atas, tentu para penikmat puisi tidak akan merasa kebingungan dengan apa yang hendak disampaikan dalam puisi tersebut, mengingat pemilihan judul yang dipakai oleh penulis sudah cukup memberikan gambaran bahwasanya sesuatu yang hendak dijelaskan dalam puisi tersebut merupakan sebuah perayaan untuk sebuah kemenangan bagi kaum muslim sehingga pembaca tidak akan seberapa sulit memahami setiap kata yang hendak dituangkan dalam puisi tersebut.

Pada puisi tersebut, tepatnya kalimat yang tertera di awal puisi. Maksud yang diutarakan dalam puisi tersebut merupakan penjelasan dari istimewahnya bulan sebelum syawal yaitu bulan ramadhan. Mengingat, pada bulan tersebut pintu taubat dibuka serta segala hal baik termasuk ibadah juga akan dilipatkan gandanya apabila ada seseorang yang hendak melaksanakannya.  Selain itu pada bulan ramadhan tersebut terdapat waktu malam yang ditunggu dan diharapkan oleh seluruh umat islam yaitu malam lailatul qodar. Namun, dalam puisi tersebut dijelasakan bahwa sosok yang diceritakan dalam puisi tersebut merasakan kesulitan mendapatkan malam lailatul qodar padahal ia sering melaksanakan sholat malam. Namun, malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut tak kunjung datang.  Hal tersebut dapat dilihat dari penggalan puisi berikut.

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

 

Kemudian, hal lain yang hendak dijelaskan dalam puisi tersebut merupakan gambaran dari seorang Tardji yang setiap hari melaksanakan ibadah secara terus menerus dengan mengharapkan suatu malam yang digambarkan pada penggalan puisi sebelumnya. Hal tersebut tertuang dalam penggalan puisi berikut ini.

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Penggalan puisi tersebut menunjukkan bahwa sosok yang digambarkan dalam puisi tersebut adalah seseorang yang sangat ahli ibadah hingga ia tidak mau batal dan mempertahankan kesuciannya dengan wudhu. Selain itu, ada hal lain yang hendak digambarkan dalam puisi tersebut . hal tersebut dapat dilihat dari penggalan puisi berikut ini.

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Berdasarkan penggalan di atas dapar dijelaskan bahwa kegigihan sosok yang digambarkan puisi tersebut dalam melaksanakan ibadah tidaklah cukup untuk memberinya jaminan hidup bahagia di akhirat atau bertemu dengan malam lailatul qodar mengingat malam tersebut sangat dinantikan oleh seluruh kaum muslim sehingga tidak mudah untuk memperolehnya dan hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan atau bertemu dengan malam yang penuh pahala tersebut.

Selain itu puncak dalam puisi tersebut dapat dilihat dari penggalan puisi di akhir yang memberikan gambaran tentang idul fitri yaitu perayaan kemenangan bagi orang muslim. Dimana pagi hari dilaksanakan sholat Id yang kemudian dilanjut dengan berjabat tangan guna memohon maaf terhadap sesama muslim mengingat di bulan sebelumnya pintu ampunan dibuka sehingga diharapkan ketika idul fitri tiba bisa seperti orang yang dilahirkan kembali tanpa dosa. 

Jumat, 07 Mei 2021

KRITIK/ESAI PUISI KARYA MASHURI

 

UNTAIAN KRITIK/ESAI 3 PUISI

 Karya Mashuri

HANTU KOLAM

: plung!

 

di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang

mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
tak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama

segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin…

“plung!”

aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Banyuwangi, 2012-12-03

 

HANTU MUSIM

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…

Magelang, 2012

 

 

HANTU DERMAGA

mimpi, puisi dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal

tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
merki pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali

Sidoarjo, 2012


Untaian Kritik 3 Puisi Karya Mashuri

Berbicara mengenai puisi, tentu tidaklah asing bagi kaum pelajar dan bahkan remaja pada umumnya. Ingin tau apa sih puisi itu? Tentu kan ya... Puisi merupakan sebuah karya sastra atau dapat dikatakan pula ragam sastra yang di dalamnya terdapat susunan kata-kata atau bahkan kata-kata kiasan yang memuat ungkapan ide, pikiran, serta perasaaan yang gaya bahasanya selaluterikat oleh unsur-unsurnya seperti irama, rima, baris, dan bait. Karena bentuk yang cukup menarik itulah tidak heran jika keberadaan puisi sangat digemari oleh kaum remaja, bahkan seringkali remaja menjadikan puisi sebagai bentuk rayuan terhadap lawan jenis pada umumnya.

Pada kesempatan kali ini, puisi yang akan saya baca dan kemudian akan saya tuangkan dalam bentuk kritik/esai ini adalah tiga judul puisi di atas yang ditulis oleh sastrawan yang berasal dari kota Lamongan bernama Mashuri. Beliau merupakan sosok yang cukup pandai sehingga dapat menjadi inspirator bagi kaum-kaum muda saat ini khususnya pada pelajar atau mahasiswa yang sedang melakukan studi dalam bidang sastra terlebih-lebih terhadap remaja pada umumnya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa karya yang beliau tulis, mengingat bukan hanya karya sastra dalam bentuk puisi yang beliau tulis, terdapat beberapa karya lain yang pernah beliau tulis, diantaranya ada novel, cerpen, dan lain-lain. Namun, kali ini yang akan tuangkan dalam bentuk kritik/esai tidaklah semua bentuk karya sastra yang pernah beliau tulis, tetapi hanya karya sastra dalam bentuk puisi yang terdiri dari tiga judul diantaranya yaitu, pertama puisi yang berjudul “Hantu Kolam”, kedua “Hantu Musim”,dan yang ketiga yaitu “Hantu Dermaga”. Ketiga puisi tersebut merupakan karya Mashuri yang masing-masing memiliki kesamaan dalam pemilihan awalan judul yang sama-sama memakai kata “Hantu”. Hal itu pula menjadikan saya penasaran terhadap isi dari ketiga puisi yang ditulis oleh Mashuri tersebut.

Pertama, saya akan menuangkan kritik/esai terhadap puisi pertama yang berjudul “Hantu Kolam”. Sebenarnya apa sih yang dibahas dalam puisi tersebut serta apa makna yang terkandung dalam puisi tersebut? Nah, saya akan menguraikannya sesuai dengan apa yang telah saya baca dari puisi yang berjudul “Hantu Kolam” yang ditulis oleh Mashuri tersebut.   

Puisi pertama yang berjudul “Hantu Kolam” tersebut merupakan sebuah puisi yang terdiri dari 6 bait dan 23 baris. Adapun gambaran dalam puisi tersebut adalah  menggambarkan tentang keberadaan seseorang yang berdiri di pinggir kolam yang sedang berkaca-kaca menatap wajahnya sendiri melalui pantulan air yang ada di dalam kolam. Hal tersebut tampak pada penggalan bait berikut ini.

: plung!

di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang

dari penggalan bait tersebut terlihat jelas bahwa kata “tampangku membayang rumpang” ini dapat menunjukkan bahwa sosok yang digambarkan dalam puisi tersebut merupakan sosok yang sedang berdiri di pinggir kolam dan membungkuk menghadap ke bawah dengan menatap pergerakan air dalam kolam sehingga yang tampak dalam tatapannya tidak lain merupakan bayangannya sendiri yang diperoleh dari pantulan air yang dipandang.

Selain itu, digambarkan pula oleh penulis bahwa dalam puisi tersebut sosok yang digambarkan merupakan sosok yang sedang merenung dan meratapi kejadian di masa lampau atau teriyang-iyang oleh kenangannya yang terus membayang-bayangi dirinya, sebagaimana bayangan wajahnya yang tampak di dalam genangan air yang ada di kolam. Sehingga kenangan yang terus membayang-bayangi itu menjadikan perasaannya menjadi hanyut. Hal tersebut tampak pada penggalan bait terakhir berikut ini.

mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
tak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan
lama

Melalui penggalan bait di atas, dapat diartikan bahwa kata “terperangkap” tersebut menunjukkan kehanyutan terhadap perasaannya yang terjebak ingatan pada kejadian yang pernah ia lakukan sehingga hal itu terus  terbayang-bayang dalam dirinya. Selain itu, kesunyiannya pun dapat dilihat dari penggalan bait berikut ini

“plung!”

aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Berdasarkan penggalan puisi di atas, dapat diartikan bahwa terdapat kejadian dalam masa lampau yang membayangi dirinya tersebut telah cukup membuat dirinya menjadi sunyi layaknya bayangan wajahnya yang terlihat dalam kolam.

Setelah saya membaca dan menuangkan hasil bacaan saya tersebut, dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut cukup menarik dalam pemilihan kata sehingga mudah untuk dibaca dan tidak banyak menimbulkan kebingungan, namun pemakaian judul di dalam puisi tersebut nampak hanya sebuah gambaran terhadap sosok yang digambarkan dalam keadaan sunyi dan merenung memikirkan sesuatu yang mengusik kehidupannya,. Melalui kesunyian itulah oleh penulis disamakan dengan sosok hantu yang seringkali dijumpai dalam keadaan sepi dan sunyi.

Kedua, puisi yang akan selanjutnya saya tuangkan dalam bentuk esai adalah puisi yang masih dalam penulis sama yaitu Mashuri, yaitu puisi yang berjudul “Hantu Musim”. Puisi yang berjudul “Hantu Musim” tersebut merupakan puisi yang terdiri dari 3 bait dan 19 baris. Adapun gambaran dari puisi tersebut adalah menggambarkan keberadaan cuaca yang seringkali silih berganti. Namun penggambaran dalam puisi tersebut diibaratkan oleh penulis dengan memberikan gambaran dari sawah yang terkadang dingin dengan memunculkan warta kepada ular, dan terkadang pula panas dan bahkan dapat pula kembali menjadi dingin kembali. Hal tersebut tampak pada penggalan bait terakhir berikut ini.

Di situ, aku panas, sekaligus dingin

Sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

Di telaga, tetapi bayangannya selalu

Mengirimkan warna sayu, kelabu

Dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

Dengan atau tanpa cerita tentang musim

Yang terus berganti…

Namun, gambaran pergantian cuaca dalam puisi yang berjudul “Hantu Musim” tersebut hanyalah sebagai bentuk pengungkapan semangat dirinya dalam menginginkan kenangannya dapat kembali dijalankan. Artinya, bahwa pergantian cuaca yang terus berganti secara tiba-tiba datangnya seperti hantu tersebut tidak dapat menjadi halangan untuknya dalam menginginkan kenangannya dapat kembali dijalankan. Melihat hal seperti ini dapat disimpulkan bahwa sosok yang diceritakan dalam puisi tersebut sedang menginginkan cinta yang pernah ia jalani bersama seseorang dapat terulang kembali mengingat banyak hal yang dapat merubah dirinya serta banyak hal yang telah ia lakukan bersama, namun harapan menjalankan kembali bersamanya tidak semudah ia menumbuhkan semangat dalam dirinya padahal dalam pikirannya berdua sama-sama ada keinginan untuk mengulang kembali mengingat cintanya yang tumbuh sudah begitu besar.

 Berdasarkan gambaran di atas, dapat saya simpulkan bahwa puisi kedua yang berjudul “Hantu Musim” ini memiliki keterkaitan dengan puisi yang pertama. Hal itu tampak pada alur yang dijelaskan dalam puisi pertama dan kedua. Pada puisi pertama sosok yang digambarkan sedang merenung memikirkan kenangan namun belum diutarakan kenangan apa yang terbesit dan terbayang-bayang di pikirannya. Namun, pada puisi kedua yang berjudul “Hantu Musim” mulai disebutkan bahwa sosok yang digambarkan dalam puisi tersebut memikirkan tentang kekasih yang pernah menjalani hubungan bersamanya.  

Ketiga, selanjutnya puisi karya Mashuri yang akan saya tuangkan dalam bentuk esai adalah puisi yang berjudul “Hantu Dermaga”.  Puisi tersebut terdiri dari 2 bait dan 20 baris. Adapun gambaran dalam puisi tersebut tampak pada wujud dermaga. Sebagaimana dermaga sendiri yang memili arti tembok rendah yang memanjang dan menjorok ke laut sebagai tempat pangkalan dan bongkar muat barang yang memberikan pengertian terhadap sosok yang dijelaskan dalam puisi tersebut adalah bahwa cinta yang dirasakan begitu dalam dan tidak mampu dipisahkan. Ibarat jauhnya kapal yang telah berjalan melalui dermaga menuju ke suatu tempat yang paling jauh, sama halnya dengan perasaan yang dimiliki tidak akan dapat dipisahkan dengan jarak begitu pula dengan kematian.

Berdasarkan uraian ketiga puisi di atas, dapat dikaitkan dalam kehidupan pada masa sekarang khususnya bagi kaum remaja yang sering kita jumpai sedang mengalami kegalauan akibat mengenang masa lalunya yang begitu indah mengingat banyak hal yang pernah ia lakukan. Bahkan, ada pula yang merasakan kegalauan hingga berdampak pada bunuh diri yang ia lakukan. Hal itu menandakan bahwa cinta yang dirasakan begitu melekat dalam dirinya dan tidak mampu dipisahkan, sehingga ketika ia tidak mampu mengulang cintanya, ia lebih rela untuk mengorbankan hidupnya dengan bunuh diri.

 

 

Sabtu, 24 April 2021

Kritik Cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki”

Karya M. Shoim Anwar

 

Cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” ini merupakan salah satu karya sastra dari seorang sastrawan bernama M. Shoim Anwar. Sebelum saya mengulas cerpen karya beliau, saya terlebih dahulu mengulas tentang sosok beliau. M. Shoim Anwar, beliau merupakan seorang sastrawan yang lahir di Desa Sanbung Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan seorang sastrawan yang kiprahnya sangat bagus bahkan beliau beberapa kali menjuarai lomba. Salah satunya adalah menjuarai lomba menulis secara berturut-turut yang diadakan oleh Dewan Kesenian Surabaya (1988, 1989, 1990) dan juga pernah menjuarai lomba menulis cerpen dan esai yang diadakan oleh Depdiknas (2001, 2002, 2003, 2005, 2006, 2007). Beliau juga pernah mendapatkan penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur pada tahun 2008. Oleh karena itu, kiprahnya dalam dunia sastra sudah tidak dapat diragukan lagi. Bahkan beberapa cerpen yang ditulisnya telah dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis. Dan tentu masih banyak hal lain dalam perjalanan karirnya di dunia sastra yang patut diacungi jempol namun tidak dapat saya jelaskan secara keseluruhan. Setelah menengok kiprah dari seorang M. Shoim Anwar yang sangat menginspirasi banyak kalangan terutama para mahasiswa inilah, saya tertarik untuk mengulas salah satu karya beliau berupa cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki.

Sebagaimana yang tertulis dalam judul cerpen tesebut, cerpen ini mengisahkan tentang seseorang perempuan bernama Sulastri yang menjadi tokoh utama dan seorang empat lelaki yang diantaranya adalah Polisi, Markam (Suami Sulastri), Fir’aun serta Musa. Menengok ke dalam awal paragraf dalam cerpen tersebut. Bagi pembaca, terutama dari kalangan muslim tentu tidak asing lagi ketike membaca paragraf pertama dalam cerpen tersebut yang terdapat istilah Laut Merah. Laut merah sendiri merupakan sebuah teluk yang terletak di sebelah barat jazirah Arab yang keberadaan teluk tersebut memisahkan dua benua, yaitu benua Asia dan Afrika. Dan tentu, hanya dengan membaca istilah laut merah saja kita akan dihadapkan pada sikap penasaran yang mendalam karena berbagai faktor misalkan kisah Nabi Musa AS yang menenggalamkan Fir’aun dan para pengikutmya, warna dari teluk tersebut, serta keberadaan air yang cukup asin.

Dengan menengok keberadaan istilah Laut Merah dalam cerpen tersebut, tentu sudah dipastikan bahwa dalam cerpen tersebut kisah yang diceritakan merupakan kisah seseorang yang tinggal di daratan Timur tengah. Namun, siapakah sosok tersebut? Tentu tidak lain dan tidak bukan dialah Sulastri. Dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa Sulastri merupakan seorang perempuan asal Indonesia yang berada di daratan Timur tengah. Apa yang Sulastri lakukan di sana? Tentu tidak lain dan tidak bukan dan sudah dipastikan bahwa keberadannya di sana adalah untuk memperkerjakan dirinya guna menafkahi keluarga. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.

Ismiy Sulastri. Ana Indonesiya,” kata perempuan tadi terbata-bata, menujukkan nama dan asalnya.

Melihat kutipan di atas, sudah cukup membuktikan bahwa sosok Sulastri bukanlah seseorang yang asli penduduk sana, melainkan penduduk asal Indonesia. Sehingga saya dapat menyimpulkan bahwa sosok Sulastri merupakan seorang yang jika tidak menjalankan ibadah, mengunjungu tempat-tempat sejarah, maka beliau merupakan seorang tenaga kerja di sana. Namun, melihat alur dalam cerpen tersebut memang ia sedang memperkerjakan dirinya di daratan Timur tengah sana karena kecewa akan perilaku suaminya yang bernama Markan yang justru melakukan hal syirik dengan menduakan Tuhan yang dibuktikan dengan perilakunya dalam bertapa untuk mendapatkan benda-benda pusaka, namun dirinya membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawanya. Kekesalan Sulastri terhadap suaminya dalam cerpen tersebut dapat dilihat dari bukti kutipan berikut ini.

“Tanam tembakau di tepi bengawan makin tak berharga. Dipermainkan pabrik rokok. Aku tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak tua?”

Dalam kutipan di atas, dapat dijelaskan bahwa Sulastri sebagai seorang istri hendak mengingatkan kepada suaminya bahwa yang ia lakukan tidaklah berguna, dan tidak akan dapat memberikan manfaat bagi keluarganya namun hanya dapat menyengsarakannya. Bukti kutipan lain yang menjadi bukti kekesalan seorang Sulastri terhadap Markam suaminya dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

 

“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”

Meskipun Sulastri sudah berkeluh kesah kepada perilaku Markam suaminya, namun sama sekali tidak ada respon dari Markam, dan justru enggan untuk mendengarkannya. Hal-hal seperti ini sering kita jumpai dalam kejadian nyata di kehidupan sehari-hari, sebagaimana di daerah-daerah tertentu yang ada di Indonesia masih banyak orang-orang yang percaya terhadap hal-hal mistik tersebut dengan bertapa beberapa malam untuk mendapatkan barang-barang atau benda-benda yang diinginkan yang terkadang digunakan untuk membentengi dirinya dalam menghadapi serangan musuh. Namun, perlu dicatat bahwa jika hanya melakukan pertapaan tanpa memikirkan keberadaan keluarga dan anak-anak, hal itu tentu akan berdampak pada kesengsaraan anak dan suami. Mengingat, dalam cerpen tersebut keberadaan Markam suaminya hanya mementingkan keinginannya sendiri dalam memuaskan hasrat untuk mendapatkan benda-benda keramat yang diinginkan tanpa emmikirkan keluarganya. Kejadian seperti ini juga dapat menjadi pelajaran bagi para remaja dan remaji saat ini, bahwa jangan tergesah-gesah untuk menikah mengingat kesiapan mental dalam mengarungi rumah tangga harus benar-benar siap sehingga antara kedua belah pihak dapat saling mengayomi, dan bukan justru memberatkan salah satu karena lebih mementingkan hasrat atau keinginan untuk bersenang-senang.  

Dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” tersebut juga terdapat kemiripan dengan kisah dalam peristiwa lampau yang terjadi dalam sejarah islam yaitu kisah Nabi Musa dengan seorang Raja bernama Fir’aun yang memiliki keangkuhan, serta menganggap dirinya Tuhan sehingga semua orang harus tunduk dan mudah ia perbudak. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan berikut ini.

“Sesosok tubuh tiba-tiba merekah. Tubuh yang sering diingat sebagai sang penerkam sekonyong-konyong muncul dari dalam laut. Sulastri menjerit menyebut namanya.”

“Firauuun…!”  serta dalam kutipan berikut ini..

“Tak usah takut hai, Budak!” kata Firaun.

“Aku bukan budak.…”

“Ooo…siapa yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah aku!”

Dari kutipan di atas dapat kita lihat bahwa keberadaan Fir’aun dalam cerpen tersebut menunjukkan sikap yang seenaknya sendiri dengan menganggap semua orang itu budak. Adapun kemiripan dengan peristiwa dalam sejarah dalam islam dengan kisah Fir’aun dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” tersebut pada pengejaran yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap Sulastri yang mengingatkan pada peristiwa dalam sejarah islam ketika Raja Fir’aun mengejar Nabi Musa dengan keretanya bersama-sama dengan pengikutnya. Namun, jika dalam peristiwa lampau dalam sejarah islam tersebut yang menjadi sasaran pengejaran adalah Nabi Musa AS, sedangkan dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki”  Sulastri. Pengejaran yang dilakukan terhadap Sulastri dapat dilihat dari kutipan berikut ini.

“Hai, jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah budak milik tuanmu. Tunduklah ke hadapanku!”

Fir’aun terus mengejar Sulastri yang terus berlari menghindari kejaran Fir’aun. Namun, ketika jarak sudah semakin mendekat, Sulastri bertemu dengan sosok lelaki setengah tua, rambut putih sebahu, tubuh tinggi besar, dan berjenggot panjang. Lelaki tersebut mengenakan kain putih menutup perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Wajah tampak teduh. Tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Sehingga hal itu membuat Sulastri gemeteran untuk memanggilnya, dialah Musa. Ketika berbicara mengenai sosok yang ditemui Sulastri ketika hendak menghindari kejaran Fir’aun dalam cerpen tersebut juga mengingatkan kita kepada sosok Nabi Musa AS yang diberikan mukjizat oleh Allah SWT berupa tongkat yang dimiliki. Di dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki”sosok Musa juga digambarkan dengan membawa tongkat sehingga memiliki kiripan dengan peristiwa dalam sejarah muslim.

 Ketika bertemu dengan Musa, Sulastri hendak memberikan pertolongan terhadap dirinya. di awal Sulatri memohon pertolongan, Musa enggan memberikan pertolongan karena ia menganggap bahwa ia masuk dalam daratan dengan haram. Namun, perlahan Sulastri hendak menjelaskan bahwa ia dilantarkan oleh suaminya. Lagi-lagi Musa memberikan jawaban yang secara halus memberikan perlawanan terhadap permintaan Sulastri yang dilontarkan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

“Saya ditelantarkan suami, Ya Musa.”

“Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”

“Saya seorang perempuan, Ya Musa.”

“Perempuan atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.”

Kemudian dalam cerpen tersebut juga dijelaskan mengenai ucapan Musa yang memberikan gambaran kepada Sulastri bahwa sebenarnya negerinya merupaka negara yang memiliki kekayaan yang sangat melimpah, namun dalam negeri tersebut seringkali bahkan sudah menjadi tradisi bahwa seorang pemimpin dipastikan serakah ketia menduduki jabatan yang tinggi dengan memakan uang rakyat dan memuaskannya sendiri. Bahkan beberapa kali keberadaan rakyat sering diperalat untuk memperoleh dukungan ketika hendak ada pemilihan umum dengan menjanjikan kepada rakyat akan hal-hal yang dapat menghipnotis daya tarik rakya, namun ketika sudah menjadi penguasa ia lebih mementingkan dirinya dan golongannya. Hal tersebut juga sering terjadi dalam dunia nyata. Keserakahan tersebut dapat dilihat dalam kutipan cerpen berikut ini.

“Para pemimpin negerimu serakah.”

“Kami tak kebagian, Ya Musa”

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

“Kami tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

“Tolonglah saya, Ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

Setelah mendengarkan jawaban Musa yang dimintai pertolongan oleh Sulastri, tidak lama kemudian angin datang bergemuruh sehingga membuat penglihatan Sulastri menghablur terhadap Musa. Hal itu kemudian mendorongnya untuk berlai kembali agar terhindar dari  kejaran Fir’aun yang terus mengejarnya. Ketika Sulastri sudah kehabisan nafas dan oleng, lelaki yang tadinya dipanggil Musa yang sebelumnya memberikan penolakan atas permintaan tolong yang dilontarkan oleh Sulastri kemudian muncul kembali di hadapannya. Namun, kali ini ia datang sebagai siluet yang samar. Kemudian Sulastri memeluknya erat-erat sebagai salah satu jalan terakhir untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Fir’aun. Pada saat itu pula Sulastri merasakan ada benda yang digenggamnya. Ternyata makin kuat dan nyata yang ia pegang adalah tongkat, kemudian Sulastri memegangnya dengan kedua tangannya. Ketika Sulastri memegang kuat tongkat tersebut, Sulastri merasakan keringanan pada tubuhnya dan merasa ada yang memompa dirinya, hingga jarak Fir’aun semakin mendekat kepada Sulastri dan hendak menerkamnya kemudian Sulastri memukulkan tongkat tersebut kepada Fir’aun. Seperti sebuah timbakar yang pecah, tubuh Fir’aun menjadi berkeping-keping di pasir. Dari dalam laut Sulastri melihat semacam ular besar menjulur dan menyedot kepingan-kepingan tubuh Firaun.

Setelah membaca gambaran cerita di atas, lagi-lagi muncul sebuah kemiripan dengan peristiwa yang terjadi dalam Nabi Musa AS yang memili tongkat yang dapat berubah menjadi ular dan menelan semua ular palsu dari tukang sihir serta mampu membela laut dengan hanya memukulkan ke dalam laut. Kemiripan dalam peristiwa tersebut dengan keistimewaan yang ada dalam cerpen tersebut adalah sama-sama terdapat sebuah tongkat yang sakti yang dapat menyelamatkan dari kejaran Fir’aun.

Berdasarkan gambaran di atas, cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” dapat memberikan penjelasan dari berbagai segi, diantaranya politik, sosial, ekonomi, dan religi. Dalam segi politik dapat kita lihat dalam cerpen tersebut yang mengisahkan keberadaan seorang penguasa yang lebih mementingkan kekuasaannya sendiri karena merasa pangkat dan derajatnya lebih tinggi sehingga ia seenaknya menindas rakyat kecil, bahkan seringkali jatah uang rakyat justru dimakan untuk memuaskan dirinya sendiri. Jika dilihat dari segi sosial dan ekonomi, dapat dilihat dari gambaran dalam cerpen tersebut yang mengisahkan sosok Sulastri yang mengalami permasalahan sosial dalam hidupnya mengingat keberadaan suami yang tidak mmapu ia rubah untuk berhenti bertapa dan menginginkan untuk mau mengurusi keluarga, namun ia tidak mampu melakukannya, sehingga ia merasa keluarganya tidak bisa sejahtera. Permasalahan sosial yang terjadi dalam keluarga Sulastri juga berdampak pada ekonomi yang menerpanya. Ia harus jatuh bangun untuk memenuhi kehidupannya bahkan ia sampai pergi ke negeri lain guna menafkahi anak-anaknya. Sungguh sangat perihatin kepada sosok Sulastri yang merasakan penderitaan akibat perilaku suaminya. Dan yang terakhir jika dilihat dari segi religi, dalam cerpen tersebut khususnya pada sosok suami Sulastri yang masih percaya terhadap hal-hal mistis dengan dibuktikan dengan pertapaan yang dilakukan Markam dalam mengharapkan kedatangan benda-benda pusaka. Hal itu juga masih sering terjadi dalam dunia nyata mengingat masih banyak orang yang menyembah pohon-pohon besar untuk dilakukan pertapaan bahkan ada yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan jodoh.

Cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” sangatlah menarik, hal itu terlihat dalam kisah atau gambaran dalam cerpen tersebut yang memiliki kemiripan dengan kisah pada Nabi Musa AS dan Raja Fir’aun sehingga dapat memberikan daya tarik bagi pembaca untuk melihat segi kemiripan dan perbedaan antara kisah dalam Cerpen tersebut dengan kisah yang terjadi pada zaman Nabi Musa AS. Kemudian dengan membaca cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” secara keseluruh terdapat amanat bahwa ketika jadi pemimpin, bersikaplah adil dan bijaksana dan jangan mementingkan kepuasan diri sendiri. Dan janganlah merasa senang apabila bahagia di atas penderitaan orang lain.

Sabtu, 17 April 2021

UNTAIAN KRITIK SASTRA

Kritik Cerpen "DI JALAN AL-KAABAH"

Karya M Shoim Anwar


Berbicara mengenai cerpen yang berjudul "Di Jalan Al-Kaabah" karya M. Shoim Anwar merupakan sebuah cerpen yang menceritakan atau mengisahkan tentang sosok pemimpin dalam suatu desa yang bernama Tuan Amali yang sedang menjalankan Ibadah Haji di kota Maekkah bersama dengan istrinya. Ketika Tuan Amali bersama istrinya berada di tanah suci, mereka bertemu dengan seorang pengemis yang terdiri dari anak-anak, karena ibah terhadap pengemis tersebut, akhirnya Tuan Amali memberikan sedekah kepada pengemis tersebut. karena Tuan Amali mengira bahwa anak-anak yang mengemis tersebut kemungkinan adalah korban peperangan atau seorang anak yang terkena ledakan Bom sehingga Tuan Amali merasa kasihan. Sebelumnya Tuan Amali bersama istrinya merasa ikhlas memberikan sedekah tersebut mengingat tujuan awal dari mereka adalah menjalankan perintah Allah sehingga ketika memberikan sedekah pun mereka berikan secara ikhlas-seikhlasnya. Kemudian Nyonya Tilah, istri Tuan Amali mengingatkan kepada Tuan Amali untuk tidak lupa mendoakan Pak Mardho seorang perangkat desa bahwan Tuan Amali yang ingin didoakan di lantai paling atas agar diberikan kesumbuhan atas segala penyakitnya, dan supaya anaknya si Ayu diberikan kelulusan kuliah, pekerjaan dan jodoh yang mapan, serta supaya Pak Mardho tidak lama-lama menduda. Ketika itu juga Tuan Amali pun mendoakannya. 

Namun, di hari yang lain tanpa disangka, ketika berjalan di Jalan Al-Kaabah yang sangat ramai mengingat jalan itu merupakan akses menuju masjid, Tuan Amali melihat seorang yang hendak memotret pengemis-pengemis anak tersebut namun dihalangi oleh wanita yang memakai cadar. mendengar pendengaran orang-orang ternyata anak-anak yang mengemis tersebut merupakan suruhan dari seorang wanita yang memakai cadar untuk berpura-pura menjadi orang yang pantas dikasihani dengan memakai pakaian yang lusuh dan gelap sehingga dengan mudah mendapatkan pemberian dari orang yang melihatnya. Melihat kebohongan seperti itu, Tuan Amali merasa bahwa pengemis ini sudah membohongi banyak orang dan tidak boleh dibiarkan saja, sehingga ia hendak bertindak yang lebih jauh dengan memaksa anak tersebut membuka tangannya, namun ia dihalang-halangi oleh seorang lelaki berkopyah cokelat hingga keduanya beradu mulut. 

Jika dikaitkan dengan kehidupan pada saat ini sangatlah cocok, mengingat di suatu desa pernah saya menjumpai seorang pengemis yang tadinya berpakaian rapi kemudian ketika hendak memasuki sebuah desa dan ditemukannya terdapat tempat yang sepi, maka ia akan mengganti pakaiannya tersebut dengan memakai pakaian yang lusuh dan terkadang berlubang untuk memanipulasi dirinya sendiri agar terlihat sebagai seorang yang pantas dikasihani. 

Kelebihan dari cerpen tersebut terletak pada pemilihan kata yang baik dan menarik sehingga dapat membuat pembaca menjadi nyaman ketika membacanya serta pemilihan judul yang cukup menarik sehinggga dapat menghipnotis pembaca untuk memunculkan niat dan keinginannya untuk membaca cerita pendek tersebut secara keseluruhan. 

Sabtu, 10 April 2021

UNTAIAN KRITIK SASTRA

KRITIK CERPEN "TAHI LALAT"

Karya M. Shoim Anwar


Berbicara mengenai Cerpen, apakah Cerpen itu? 

Cerpen merupakan sebuah karya sastra yang bersifat fiktif yang menceritakan tentang suatu permasalahan yang dialami oleh tokoh yang diceritakan secara ringkas, sehingga dengan sekali duduk saja sebuah cerpen dapat selesai terbaca. Sebagaimana sebuah karya sastra yang akan saya kritik ini juga berbentuk cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar. 

Cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan atau mengisahkan tentang paradigma kehidupan sosial yang terjadi di dalam suatu desa. hal itu dapat dilihat dari sikap yang ditujukan oleh masyarakat terhadap keberadaan pimpinan desa yang enggan menepati janji-janjinya. keberadaan sebuah pemimpin dalam suatu desa seringkali menjadi momok serta perhatian utama oleh masyarakat sehingga apa saja yang hendak dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu desa tentu akan menjadi perbincangann utama dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana dalam cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar yang saya kritik ini, akibat dari sikap dan perilaku pimpinannya dalam suatu desa tersebut berdampak pada munculnya kerisauan dalam diri masyarakat. 

Selain itu hal lain yang dibahas dalam Cerpen tersebut adalah keberadaan Tahi Lalat di dalam dada seorang istri dari pemimpin desa. Entah keberadaan yang pasti di sebelah sebelah kiri, kanan, atau bahkan tengah. Keberadaan tahi lalat dalam diri seorang istri Pak Lurah ini diketahui oleh warga dalam satu desa sehingga muncul rasa keingintahuan dalam diri warga khususnya kaum lelaki. Namun, perlu diketahui bahwa dalam cerpen tersebut sebagaimana kita ketahui bahwa tahi lalat dalam dada dari seseorang istri Pak lurah tersebut berusaha untuk terus ditutupi mengingat bagian tubuh tersebut semestinya tidak patut untuk diperlihatkan dan dipertontonkan kepada publik. 

Berdasarkan pemaknaan mengenai keberadaan Pak lurah dan keberadaan tahi lalat dalam diri seorang istri dari Pak Lurah ini saling memiliki keterkaitan. dimana keberadaan tahi lalat tersebut diangggap sebagai 'aib yang selalu  ditutupi dan merupakan sebuah simbol dari perjalanan suaminya.  sehingga muncul sebuah pesan bahwa sebesar apapun usaha untuk menutupi keburukan seseorang pasti lama-kelamaan akan diketahui oleh semua orang. Aktualisasi dengan kehidupan sekarang dapat dilihat dari keberadaan pemimpin yang mengumbar-umbar janji manis ketika kampanye, namun ketika sudah terpilih menjadi seorang pemimpin selalu lupa dengan janji yang sebelumnya diucapkan dalam kampanye. dan seringkali pemimpin menutup-nutupi janjina yang pernah diucapkan dengan mengalihkan kepad ahal lain. hal itu memiliki kesamaan makna dengan cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar tersebut. 

Cerpen "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar sangat menarik, terutama dalam pemilihan judul "Tahi Lalat" yang dapat membuat penasaran bagi pembaca untuk mengetahui isi dari cerpen tersebut. begitu juga penyampaian makna dalam cerpen tersebut sangat unik dan mudah dipahami. Namun, kekurangan dalam cerpen tersebut terdapat pada ketidakjelasan keberadaan tokoh yang tidak dijelaskan sehingga sangat sulit untuk dipahami oleh pembaca.  



Jumat, 02 April 2021

 Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar


  M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Saya akan menguraikan cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar dengan pendapat saya sendiri. Cerpen tersebut menceritakan tentang tokoh yang bernama Gus Usup. Sebelum ke ceritanya, saya akan sedikit menjabarkan mengenai panggilan “Gus”. Panggilan Gus ini biasanya ditunjukan kepada seseorang yang merupakan keturunan dari Kyai. Selain itu, ada beberapa yang mengartikan panggilan Gus tersebut dijadikan sebuah lambang keilmuan dan akhlak sosial seseorang.  

  Gus Usup merupakan seorang yang di hormati oleh masyarakat sekitar, karena sikapnya yang rendah hati dan suka berbaur dengan orang lain. Gus Usup selalu menggunakan  batu akik yang melingkar jari manisnya dengan motif yang unik yaitu sisik naga. Batu akik yang di gunakan Gus Usup tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya kejadian berikut: Pertama, saat Gus Usup yang sedang bermain kartu remi dengan Guk Mat, dalam permainan tersebut Gus Usup lah yang memenangkan permainan. Kedua, pada saat berlatih bela diri, ada yang ingin mengambil batu akik milik Gus Usup tersebut. Namun, orang yang ingin mengambil batu akik Gus Usup tersebut terpental. Dari dua kejadian tersebut, masyarakat mempercayai bahwa Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Mereka menganggap bahwa batu akik yang digunakan Gus Usup tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini masih ada sebagianorang yang mempercayai benda” yang dimiliki seseorang sebagai hal-hal magis dan menjadi sebuah keberuntungan.

  Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar ini ceritanya mudah untuk dipahami dan ceritanya juga menarik.

Jumat, 26 Maret 2021

UNTAIAN KRITIK PUISI

"ULAMA ABIYASA TAK PERNAH MINTA JATAH" 

Karya: M. Shoim Anwar


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

panutan para kawula dari awal kisah

ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia

tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam  hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga 

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Ulama Abiyasa bertitah 

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara 

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama 

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua 

datanglah jika ingin menghaturkan sembah 

semua diterima dengan senyum mempesona 

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya 

mintalah arah dan jalan sebagai amanah 

bukan untuk dikembangkan sebagai bungah kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Penghujung Desember 2020.


Desember, 2020



TELAAH PUISI "ULAMA ABIYASA TAK PERNAH MINTA JATAH"

Puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas merupakan sebuah puisi yang menceritakan tentang keberadaan seseorang yang mempunyai akhlak baik, jujur dan tidak mengharapkan apapun tehadap apa yang ia lakukan serta mampu bertanggung jawab. Puisi tersebut memiliki tiga bait yang masing-masing bait memilik baris yang berbeda-beda. bait pertama terdiri dari 8 baris, dan bait kedua terdiri dari 6 baris, sedangkan pada bait ketiga jumlah barisnya terdiri dari 16 baris. 

Berbicara mengenai makna dalam setiap bait pada puisi di atas dapat dijabarkan sebagai berikut.

Pada bait pertama, hal yang diungkapkan adalah bahwa dalam bait pertama tersebut terdapat seseorang yang cukup baik untuk dijadikan panutan layaknya seorang guru yang bisa dijadikan teladan bagi para siswa-siswinya, begitupula sosok Ulama Abiyasa yang diungkap dalam puisi tersebut yang memiliki sikap jujur dan tidak meminta imbalan sedikitpun, serta tidak tergiur dengan singgasana atau jabatan yang dipandang. hal itu terlihat dalam bait berikut: 

Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

panutan para kawula dari awal kisah

ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia

tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Sedangkan pada bait kedua pada puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas, menceritakan tentang perilaku yang ditunjukkan oleh sosok Ulama Abiyasa yang sangat sopan dalam bertutur kata, sehingga hal tersebut menjadikannya dihormati kalangan masyarakat. hal tersebut terlihat dalam bait berikut yang berbunyi: 

Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam  hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga 

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Pada bait ketiga pada puisi di atas menceritakan tentang ketidakmauan Ulama Abiyasa untuk diminta menjadikan penguasa karena ia sama sekali tidak tergiur dengan jabatan atau singgasana seorang raja, karena terpujinya perilaku Ulama Abiyasa tersebut sorang raja sampai hormat, tunduk dan malu terhadapnya. hal tersebut tertuang dalam bait yang berbunyi: 

Ulama Abiyasa bertitah 

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara 

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama 

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua 

datanglah jika ingin menghaturkan sembah 

semua diterima dengan senyum mempesona 

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya 

mintalah arah dan jalan sebagai amanah 

bukan untuk dikembangkan sebagai bungah kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Penghujung Desember 2020.


Berdasarkan keseluruhan puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas, keberadaan puisi tersebut masih sesuai dengan kehidupan yang ada saat ini. hal tersebut terlihat ketika seseorang hendak mencalonkan diri sebagai calon Kepala Desa, Camat, atau bahkan Bupati yang seringkali mendatangi seorang yang dirasa memiliki kepribadian yang baik serta ilmu yang luas untuk dimintai sesuatu hal dengan hanya bertujuan untuk mendapatkan suara banyak dan memberikan imbalan terhadap ulama yang didatangi. namun, tekadang ada sosok ulama yang justru menolak dengan imbalan yang diberikan mengingat sangat berpegang teguh pada agama yang dianut, sehingga ia hanya mau memberikan nasihat untuk dapat menjaga amanah ketika menjadi seorang pemimpin. 

Jumat, 19 Maret 2021

PERCIKAN KRITIK PUISI

ULAMA DORNA NGESOT KE ISTANA

Karya M. Shoim Anwar 

 

 Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

 

Desember, 2020

 

Kritik Puisi "ULAMA DORNA NGESOT KE ISTANA" Karya M. Shoim Anwar

Tahukah kalian apa puisi itu? 

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang cukup digemari oleh kalangan remaja dalam mengekspresikan dirinya atau bahkan diri seseorang yang hendak diekspresikan, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam pengungkapan sebuah perasaan yang ditunjukkan dalam bentuk puisi tidak selamanya memiliki makna atay arti yang jelas namun justru seringkali terdapat makna-makna yang tersirat sehingga untuk memahaminya kita perlu mengetahui setiap kata yang mewakili perasaan yang dituangkan dalam bentuk kalimat. 

Berbicara mengenai sebuah kritik puisi, kritik puisi merupakan sebuah upaya untuk menelaah suatu karya agar dapat memberikan sebuah introspeksi dalam diri seorang penulis dengan memberikan asumsi atau persepsi ketika membaca suatu karya tersebut sehingga dengan adanya kritik tersebut, diharapkan suatu karya yang diterbitkan selanjutnya menjadi sebuah karya yang lebih epik sehingga minat baca dari para penikmat karya sastra akan semakin kuat. 

Puisi yang berjudul "Ulama Dorna Ngesot Ke Istana" ini masih membicarakan mengenai keberadaan seorang petinggi dalam suatu daerah yang digeluti oleh seorang yang kelihatan berparas apik namun memiliki keinginan yang ia akan berusaha memperolehnya dengan berbagqi hal untuk meninggikan martabatnya, apapun keinginanan yang dapat menguntungkan dirinya akab ia lakukan.  hal itu terlihat dalam bait pertama yang berbunyi: 

Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

 

Berdasarkan pengalan puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan tokoh seorang ulama yang dimaksudkan dalam puisi tersebut hendak mempertaruhkan segala yang ia memiliki dengan berharap pada suatu janji yang penuh kesuraman  dari sekelompok orang, dan bersikap seolah-olah istana atua sebuah pimpinan wilayah melindungi segala apa yang ia perbuat, sehingga hal itu berdampak pada munculnya perlakuan yang buruk terhadap seorang disekelilingnya dengan memasukkannya ke dalam penjara. 

Keberadaan puisi ini sangat berkaitan dengan keberadaan seseorang yang apabila kita lihat dalam dunia sekarang banyak seseorang yang berpura-pura baik terhadap sebuah pimpinan, namun sebenarnya di belakang ada niat terselubung yang ingin meninggikan martabatnya dengan cara menggulingkan seorang pemimpin yang dianutnya.  dalam mengharapkan sebuah tahta atau jabatan semata terkadang seseorang justru memilih untuk menikmati tonggak kekuasaan yang diduduki daripada tanggungjawab terhadap apa yang ia emban. begitu juga sebaliknya seseorang yang dianggap kalangan itu baik tidak ada niat untuk membenarkan dengan memberikan arahan dengan baik, namun yang sering justru ingin bersaing demi mendapatkan kekuasaan semata. 

 

 

KRITIK/ESAI SASTRA DARI KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR (“Sorot Mata Syaila”, “Sepatu Jinjit Aryanti” , “Bambi dan Perempuan Bersel...