Sabtu, 24 April 2021

Kritik Cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki”

Karya M. Shoim Anwar

 

Cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” ini merupakan salah satu karya sastra dari seorang sastrawan bernama M. Shoim Anwar. Sebelum saya mengulas cerpen karya beliau, saya terlebih dahulu mengulas tentang sosok beliau. M. Shoim Anwar, beliau merupakan seorang sastrawan yang lahir di Desa Sanbung Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan seorang sastrawan yang kiprahnya sangat bagus bahkan beliau beberapa kali menjuarai lomba. Salah satunya adalah menjuarai lomba menulis secara berturut-turut yang diadakan oleh Dewan Kesenian Surabaya (1988, 1989, 1990) dan juga pernah menjuarai lomba menulis cerpen dan esai yang diadakan oleh Depdiknas (2001, 2002, 2003, 2005, 2006, 2007). Beliau juga pernah mendapatkan penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur pada tahun 2008. Oleh karena itu, kiprahnya dalam dunia sastra sudah tidak dapat diragukan lagi. Bahkan beberapa cerpen yang ditulisnya telah dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis. Dan tentu masih banyak hal lain dalam perjalanan karirnya di dunia sastra yang patut diacungi jempol namun tidak dapat saya jelaskan secara keseluruhan. Setelah menengok kiprah dari seorang M. Shoim Anwar yang sangat menginspirasi banyak kalangan terutama para mahasiswa inilah, saya tertarik untuk mengulas salah satu karya beliau berupa cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki.

Sebagaimana yang tertulis dalam judul cerpen tesebut, cerpen ini mengisahkan tentang seseorang perempuan bernama Sulastri yang menjadi tokoh utama dan seorang empat lelaki yang diantaranya adalah Polisi, Markam (Suami Sulastri), Fir’aun serta Musa. Menengok ke dalam awal paragraf dalam cerpen tersebut. Bagi pembaca, terutama dari kalangan muslim tentu tidak asing lagi ketike membaca paragraf pertama dalam cerpen tersebut yang terdapat istilah Laut Merah. Laut merah sendiri merupakan sebuah teluk yang terletak di sebelah barat jazirah Arab yang keberadaan teluk tersebut memisahkan dua benua, yaitu benua Asia dan Afrika. Dan tentu, hanya dengan membaca istilah laut merah saja kita akan dihadapkan pada sikap penasaran yang mendalam karena berbagai faktor misalkan kisah Nabi Musa AS yang menenggalamkan Fir’aun dan para pengikutmya, warna dari teluk tersebut, serta keberadaan air yang cukup asin.

Dengan menengok keberadaan istilah Laut Merah dalam cerpen tersebut, tentu sudah dipastikan bahwa dalam cerpen tersebut kisah yang diceritakan merupakan kisah seseorang yang tinggal di daratan Timur tengah. Namun, siapakah sosok tersebut? Tentu tidak lain dan tidak bukan dialah Sulastri. Dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa Sulastri merupakan seorang perempuan asal Indonesia yang berada di daratan Timur tengah. Apa yang Sulastri lakukan di sana? Tentu tidak lain dan tidak bukan dan sudah dipastikan bahwa keberadannya di sana adalah untuk memperkerjakan dirinya guna menafkahi keluarga. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut ini.

Ismiy Sulastri. Ana Indonesiya,” kata perempuan tadi terbata-bata, menujukkan nama dan asalnya.

Melihat kutipan di atas, sudah cukup membuktikan bahwa sosok Sulastri bukanlah seseorang yang asli penduduk sana, melainkan penduduk asal Indonesia. Sehingga saya dapat menyimpulkan bahwa sosok Sulastri merupakan seorang yang jika tidak menjalankan ibadah, mengunjungu tempat-tempat sejarah, maka beliau merupakan seorang tenaga kerja di sana. Namun, melihat alur dalam cerpen tersebut memang ia sedang memperkerjakan dirinya di daratan Timur tengah sana karena kecewa akan perilaku suaminya yang bernama Markan yang justru melakukan hal syirik dengan menduakan Tuhan yang dibuktikan dengan perilakunya dalam bertapa untuk mendapatkan benda-benda pusaka, namun dirinya membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawanya. Kekesalan Sulastri terhadap suaminya dalam cerpen tersebut dapat dilihat dari bukti kutipan berikut ini.

“Tanam tembakau di tepi bengawan makin tak berharga. Dipermainkan pabrik rokok. Aku tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak tua?”

Dalam kutipan di atas, dapat dijelaskan bahwa Sulastri sebagai seorang istri hendak mengingatkan kepada suaminya bahwa yang ia lakukan tidaklah berguna, dan tidak akan dapat memberikan manfaat bagi keluarganya namun hanya dapat menyengsarakannya. Bukti kutipan lain yang menjadi bukti kekesalan seorang Sulastri terhadap Markam suaminya dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

 

“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”

Meskipun Sulastri sudah berkeluh kesah kepada perilaku Markam suaminya, namun sama sekali tidak ada respon dari Markam, dan justru enggan untuk mendengarkannya. Hal-hal seperti ini sering kita jumpai dalam kejadian nyata di kehidupan sehari-hari, sebagaimana di daerah-daerah tertentu yang ada di Indonesia masih banyak orang-orang yang percaya terhadap hal-hal mistik tersebut dengan bertapa beberapa malam untuk mendapatkan barang-barang atau benda-benda yang diinginkan yang terkadang digunakan untuk membentengi dirinya dalam menghadapi serangan musuh. Namun, perlu dicatat bahwa jika hanya melakukan pertapaan tanpa memikirkan keberadaan keluarga dan anak-anak, hal itu tentu akan berdampak pada kesengsaraan anak dan suami. Mengingat, dalam cerpen tersebut keberadaan Markam suaminya hanya mementingkan keinginannya sendiri dalam memuaskan hasrat untuk mendapatkan benda-benda keramat yang diinginkan tanpa emmikirkan keluarganya. Kejadian seperti ini juga dapat menjadi pelajaran bagi para remaja dan remaji saat ini, bahwa jangan tergesah-gesah untuk menikah mengingat kesiapan mental dalam mengarungi rumah tangga harus benar-benar siap sehingga antara kedua belah pihak dapat saling mengayomi, dan bukan justru memberatkan salah satu karena lebih mementingkan hasrat atau keinginan untuk bersenang-senang.  

Dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” tersebut juga terdapat kemiripan dengan kisah dalam peristiwa lampau yang terjadi dalam sejarah islam yaitu kisah Nabi Musa dengan seorang Raja bernama Fir’aun yang memiliki keangkuhan, serta menganggap dirinya Tuhan sehingga semua orang harus tunduk dan mudah ia perbudak. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan berikut ini.

“Sesosok tubuh tiba-tiba merekah. Tubuh yang sering diingat sebagai sang penerkam sekonyong-konyong muncul dari dalam laut. Sulastri menjerit menyebut namanya.”

“Firauuun…!”  serta dalam kutipan berikut ini..

“Tak usah takut hai, Budak!” kata Firaun.

“Aku bukan budak.…”

“Ooo…siapa yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah aku!”

Dari kutipan di atas dapat kita lihat bahwa keberadaan Fir’aun dalam cerpen tersebut menunjukkan sikap yang seenaknya sendiri dengan menganggap semua orang itu budak. Adapun kemiripan dengan peristiwa dalam sejarah dalam islam dengan kisah Fir’aun dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” tersebut pada pengejaran yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap Sulastri yang mengingatkan pada peristiwa dalam sejarah islam ketika Raja Fir’aun mengejar Nabi Musa dengan keretanya bersama-sama dengan pengikutnya. Namun, jika dalam peristiwa lampau dalam sejarah islam tersebut yang menjadi sasaran pengejaran adalah Nabi Musa AS, sedangkan dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki”  Sulastri. Pengejaran yang dilakukan terhadap Sulastri dapat dilihat dari kutipan berikut ini.

“Hai, jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah budak milik tuanmu. Tunduklah ke hadapanku!”

Fir’aun terus mengejar Sulastri yang terus berlari menghindari kejaran Fir’aun. Namun, ketika jarak sudah semakin mendekat, Sulastri bertemu dengan sosok lelaki setengah tua, rambut putih sebahu, tubuh tinggi besar, dan berjenggot panjang. Lelaki tersebut mengenakan kain putih menutup perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Wajah tampak teduh. Tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Sehingga hal itu membuat Sulastri gemeteran untuk memanggilnya, dialah Musa. Ketika berbicara mengenai sosok yang ditemui Sulastri ketika hendak menghindari kejaran Fir’aun dalam cerpen tersebut juga mengingatkan kita kepada sosok Nabi Musa AS yang diberikan mukjizat oleh Allah SWT berupa tongkat yang dimiliki. Di dalam cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki”sosok Musa juga digambarkan dengan membawa tongkat sehingga memiliki kiripan dengan peristiwa dalam sejarah muslim.

 Ketika bertemu dengan Musa, Sulastri hendak memberikan pertolongan terhadap dirinya. di awal Sulatri memohon pertolongan, Musa enggan memberikan pertolongan karena ia menganggap bahwa ia masuk dalam daratan dengan haram. Namun, perlahan Sulastri hendak menjelaskan bahwa ia dilantarkan oleh suaminya. Lagi-lagi Musa memberikan jawaban yang secara halus memberikan perlawanan terhadap permintaan Sulastri yang dilontarkan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

“Saya ditelantarkan suami, Ya Musa.”

“Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”

“Saya seorang perempuan, Ya Musa.”

“Perempuan atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.”

Kemudian dalam cerpen tersebut juga dijelaskan mengenai ucapan Musa yang memberikan gambaran kepada Sulastri bahwa sebenarnya negerinya merupaka negara yang memiliki kekayaan yang sangat melimpah, namun dalam negeri tersebut seringkali bahkan sudah menjadi tradisi bahwa seorang pemimpin dipastikan serakah ketia menduduki jabatan yang tinggi dengan memakan uang rakyat dan memuaskannya sendiri. Bahkan beberapa kali keberadaan rakyat sering diperalat untuk memperoleh dukungan ketika hendak ada pemilihan umum dengan menjanjikan kepada rakyat akan hal-hal yang dapat menghipnotis daya tarik rakya, namun ketika sudah menjadi penguasa ia lebih mementingkan dirinya dan golongannya. Hal tersebut juga sering terjadi dalam dunia nyata. Keserakahan tersebut dapat dilihat dalam kutipan cerpen berikut ini.

“Para pemimpin negerimu serakah.”

“Kami tak kebagian, Ya Musa”

“Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya.”

“Kami tak memperoleh keadilan, Ya Musa.”

“Di negerimu keadilan telah jadi slogan.”

“Tolonglah saya, Ya Musa.”

“Para pemimpin negerimu juga tak bisa menolong. Kau hanya dibutuhkan saat pemilu. Setelah itu kau dijadikan barang dagangan yang murah.”

Setelah mendengarkan jawaban Musa yang dimintai pertolongan oleh Sulastri, tidak lama kemudian angin datang bergemuruh sehingga membuat penglihatan Sulastri menghablur terhadap Musa. Hal itu kemudian mendorongnya untuk berlai kembali agar terhindar dari  kejaran Fir’aun yang terus mengejarnya. Ketika Sulastri sudah kehabisan nafas dan oleng, lelaki yang tadinya dipanggil Musa yang sebelumnya memberikan penolakan atas permintaan tolong yang dilontarkan oleh Sulastri kemudian muncul kembali di hadapannya. Namun, kali ini ia datang sebagai siluet yang samar. Kemudian Sulastri memeluknya erat-erat sebagai salah satu jalan terakhir untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Fir’aun. Pada saat itu pula Sulastri merasakan ada benda yang digenggamnya. Ternyata makin kuat dan nyata yang ia pegang adalah tongkat, kemudian Sulastri memegangnya dengan kedua tangannya. Ketika Sulastri memegang kuat tongkat tersebut, Sulastri merasakan keringanan pada tubuhnya dan merasa ada yang memompa dirinya, hingga jarak Fir’aun semakin mendekat kepada Sulastri dan hendak menerkamnya kemudian Sulastri memukulkan tongkat tersebut kepada Fir’aun. Seperti sebuah timbakar yang pecah, tubuh Fir’aun menjadi berkeping-keping di pasir. Dari dalam laut Sulastri melihat semacam ular besar menjulur dan menyedot kepingan-kepingan tubuh Firaun.

Setelah membaca gambaran cerita di atas, lagi-lagi muncul sebuah kemiripan dengan peristiwa yang terjadi dalam Nabi Musa AS yang memili tongkat yang dapat berubah menjadi ular dan menelan semua ular palsu dari tukang sihir serta mampu membela laut dengan hanya memukulkan ke dalam laut. Kemiripan dalam peristiwa tersebut dengan keistimewaan yang ada dalam cerpen tersebut adalah sama-sama terdapat sebuah tongkat yang sakti yang dapat menyelamatkan dari kejaran Fir’aun.

Berdasarkan gambaran di atas, cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” dapat memberikan penjelasan dari berbagai segi, diantaranya politik, sosial, ekonomi, dan religi. Dalam segi politik dapat kita lihat dalam cerpen tersebut yang mengisahkan keberadaan seorang penguasa yang lebih mementingkan kekuasaannya sendiri karena merasa pangkat dan derajatnya lebih tinggi sehingga ia seenaknya menindas rakyat kecil, bahkan seringkali jatah uang rakyat justru dimakan untuk memuaskan dirinya sendiri. Jika dilihat dari segi sosial dan ekonomi, dapat dilihat dari gambaran dalam cerpen tersebut yang mengisahkan sosok Sulastri yang mengalami permasalahan sosial dalam hidupnya mengingat keberadaan suami yang tidak mmapu ia rubah untuk berhenti bertapa dan menginginkan untuk mau mengurusi keluarga, namun ia tidak mampu melakukannya, sehingga ia merasa keluarganya tidak bisa sejahtera. Permasalahan sosial yang terjadi dalam keluarga Sulastri juga berdampak pada ekonomi yang menerpanya. Ia harus jatuh bangun untuk memenuhi kehidupannya bahkan ia sampai pergi ke negeri lain guna menafkahi anak-anaknya. Sungguh sangat perihatin kepada sosok Sulastri yang merasakan penderitaan akibat perilaku suaminya. Dan yang terakhir jika dilihat dari segi religi, dalam cerpen tersebut khususnya pada sosok suami Sulastri yang masih percaya terhadap hal-hal mistis dengan dibuktikan dengan pertapaan yang dilakukan Markam dalam mengharapkan kedatangan benda-benda pusaka. Hal itu juga masih sering terjadi dalam dunia nyata mengingat masih banyak orang yang menyembah pohon-pohon besar untuk dilakukan pertapaan bahkan ada yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan jodoh.

Cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” sangatlah menarik, hal itu terlihat dalam kisah atau gambaran dalam cerpen tersebut yang memiliki kemiripan dengan kisah pada Nabi Musa AS dan Raja Fir’aun sehingga dapat memberikan daya tarik bagi pembaca untuk melihat segi kemiripan dan perbedaan antara kisah dalam Cerpen tersebut dengan kisah yang terjadi pada zaman Nabi Musa AS. Kemudian dengan membaca cerpen yang berjudul “Sulastri dan Empat Lelaki” secara keseluruh terdapat amanat bahwa ketika jadi pemimpin, bersikaplah adil dan bijaksana dan jangan mementingkan kepuasan diri sendiri. Dan janganlah merasa senang apabila bahagia di atas penderitaan orang lain.

Sabtu, 17 April 2021

UNTAIAN KRITIK SASTRA

Kritik Cerpen "DI JALAN AL-KAABAH"

Karya M Shoim Anwar


Berbicara mengenai cerpen yang berjudul "Di Jalan Al-Kaabah" karya M. Shoim Anwar merupakan sebuah cerpen yang menceritakan atau mengisahkan tentang sosok pemimpin dalam suatu desa yang bernama Tuan Amali yang sedang menjalankan Ibadah Haji di kota Maekkah bersama dengan istrinya. Ketika Tuan Amali bersama istrinya berada di tanah suci, mereka bertemu dengan seorang pengemis yang terdiri dari anak-anak, karena ibah terhadap pengemis tersebut, akhirnya Tuan Amali memberikan sedekah kepada pengemis tersebut. karena Tuan Amali mengira bahwa anak-anak yang mengemis tersebut kemungkinan adalah korban peperangan atau seorang anak yang terkena ledakan Bom sehingga Tuan Amali merasa kasihan. Sebelumnya Tuan Amali bersama istrinya merasa ikhlas memberikan sedekah tersebut mengingat tujuan awal dari mereka adalah menjalankan perintah Allah sehingga ketika memberikan sedekah pun mereka berikan secara ikhlas-seikhlasnya. Kemudian Nyonya Tilah, istri Tuan Amali mengingatkan kepada Tuan Amali untuk tidak lupa mendoakan Pak Mardho seorang perangkat desa bahwan Tuan Amali yang ingin didoakan di lantai paling atas agar diberikan kesumbuhan atas segala penyakitnya, dan supaya anaknya si Ayu diberikan kelulusan kuliah, pekerjaan dan jodoh yang mapan, serta supaya Pak Mardho tidak lama-lama menduda. Ketika itu juga Tuan Amali pun mendoakannya. 

Namun, di hari yang lain tanpa disangka, ketika berjalan di Jalan Al-Kaabah yang sangat ramai mengingat jalan itu merupakan akses menuju masjid, Tuan Amali melihat seorang yang hendak memotret pengemis-pengemis anak tersebut namun dihalangi oleh wanita yang memakai cadar. mendengar pendengaran orang-orang ternyata anak-anak yang mengemis tersebut merupakan suruhan dari seorang wanita yang memakai cadar untuk berpura-pura menjadi orang yang pantas dikasihani dengan memakai pakaian yang lusuh dan gelap sehingga dengan mudah mendapatkan pemberian dari orang yang melihatnya. Melihat kebohongan seperti itu, Tuan Amali merasa bahwa pengemis ini sudah membohongi banyak orang dan tidak boleh dibiarkan saja, sehingga ia hendak bertindak yang lebih jauh dengan memaksa anak tersebut membuka tangannya, namun ia dihalang-halangi oleh seorang lelaki berkopyah cokelat hingga keduanya beradu mulut. 

Jika dikaitkan dengan kehidupan pada saat ini sangatlah cocok, mengingat di suatu desa pernah saya menjumpai seorang pengemis yang tadinya berpakaian rapi kemudian ketika hendak memasuki sebuah desa dan ditemukannya terdapat tempat yang sepi, maka ia akan mengganti pakaiannya tersebut dengan memakai pakaian yang lusuh dan terkadang berlubang untuk memanipulasi dirinya sendiri agar terlihat sebagai seorang yang pantas dikasihani. 

Kelebihan dari cerpen tersebut terletak pada pemilihan kata yang baik dan menarik sehingga dapat membuat pembaca menjadi nyaman ketika membacanya serta pemilihan judul yang cukup menarik sehinggga dapat menghipnotis pembaca untuk memunculkan niat dan keinginannya untuk membaca cerita pendek tersebut secara keseluruhan. 

Sabtu, 10 April 2021

UNTAIAN KRITIK SASTRA

KRITIK CERPEN "TAHI LALAT"

Karya M. Shoim Anwar


Berbicara mengenai Cerpen, apakah Cerpen itu? 

Cerpen merupakan sebuah karya sastra yang bersifat fiktif yang menceritakan tentang suatu permasalahan yang dialami oleh tokoh yang diceritakan secara ringkas, sehingga dengan sekali duduk saja sebuah cerpen dapat selesai terbaca. Sebagaimana sebuah karya sastra yang akan saya kritik ini juga berbentuk cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar. 

Cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan atau mengisahkan tentang paradigma kehidupan sosial yang terjadi di dalam suatu desa. hal itu dapat dilihat dari sikap yang ditujukan oleh masyarakat terhadap keberadaan pimpinan desa yang enggan menepati janji-janjinya. keberadaan sebuah pemimpin dalam suatu desa seringkali menjadi momok serta perhatian utama oleh masyarakat sehingga apa saja yang hendak dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu desa tentu akan menjadi perbincangann utama dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana dalam cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar yang saya kritik ini, akibat dari sikap dan perilaku pimpinannya dalam suatu desa tersebut berdampak pada munculnya kerisauan dalam diri masyarakat. 

Selain itu hal lain yang dibahas dalam Cerpen tersebut adalah keberadaan Tahi Lalat di dalam dada seorang istri dari pemimpin desa. Entah keberadaan yang pasti di sebelah sebelah kiri, kanan, atau bahkan tengah. Keberadaan tahi lalat dalam diri seorang istri Pak Lurah ini diketahui oleh warga dalam satu desa sehingga muncul rasa keingintahuan dalam diri warga khususnya kaum lelaki. Namun, perlu diketahui bahwa dalam cerpen tersebut sebagaimana kita ketahui bahwa tahi lalat dalam dada dari seseorang istri Pak lurah tersebut berusaha untuk terus ditutupi mengingat bagian tubuh tersebut semestinya tidak patut untuk diperlihatkan dan dipertontonkan kepada publik. 

Berdasarkan pemaknaan mengenai keberadaan Pak lurah dan keberadaan tahi lalat dalam diri seorang istri dari Pak Lurah ini saling memiliki keterkaitan. dimana keberadaan tahi lalat tersebut diangggap sebagai 'aib yang selalu  ditutupi dan merupakan sebuah simbol dari perjalanan suaminya.  sehingga muncul sebuah pesan bahwa sebesar apapun usaha untuk menutupi keburukan seseorang pasti lama-kelamaan akan diketahui oleh semua orang. Aktualisasi dengan kehidupan sekarang dapat dilihat dari keberadaan pemimpin yang mengumbar-umbar janji manis ketika kampanye, namun ketika sudah terpilih menjadi seorang pemimpin selalu lupa dengan janji yang sebelumnya diucapkan dalam kampanye. dan seringkali pemimpin menutup-nutupi janjina yang pernah diucapkan dengan mengalihkan kepad ahal lain. hal itu memiliki kesamaan makna dengan cerpen yang berjudul "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar tersebut. 

Cerpen "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar sangat menarik, terutama dalam pemilihan judul "Tahi Lalat" yang dapat membuat penasaran bagi pembaca untuk mengetahui isi dari cerpen tersebut. begitu juga penyampaian makna dalam cerpen tersebut sangat unik dan mudah dipahami. Namun, kekurangan dalam cerpen tersebut terdapat pada ketidakjelasan keberadaan tokoh yang tidak dijelaskan sehingga sangat sulit untuk dipahami oleh pembaca.  



Jumat, 02 April 2021

 Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar


  M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Saya akan menguraikan cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar dengan pendapat saya sendiri. Cerpen tersebut menceritakan tentang tokoh yang bernama Gus Usup. Sebelum ke ceritanya, saya akan sedikit menjabarkan mengenai panggilan “Gus”. Panggilan Gus ini biasanya ditunjukan kepada seseorang yang merupakan keturunan dari Kyai. Selain itu, ada beberapa yang mengartikan panggilan Gus tersebut dijadikan sebuah lambang keilmuan dan akhlak sosial seseorang.  

  Gus Usup merupakan seorang yang di hormati oleh masyarakat sekitar, karena sikapnya yang rendah hati dan suka berbaur dengan orang lain. Gus Usup selalu menggunakan  batu akik yang melingkar jari manisnya dengan motif yang unik yaitu sisik naga. Batu akik yang di gunakan Gus Usup tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya kejadian berikut: Pertama, saat Gus Usup yang sedang bermain kartu remi dengan Guk Mat, dalam permainan tersebut Gus Usup lah yang memenangkan permainan. Kedua, pada saat berlatih bela diri, ada yang ingin mengambil batu akik milik Gus Usup tersebut. Namun, orang yang ingin mengambil batu akik Gus Usup tersebut terpental. Dari dua kejadian tersebut, masyarakat mempercayai bahwa Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Mereka menganggap bahwa batu akik yang digunakan Gus Usup tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini masih ada sebagianorang yang mempercayai benda” yang dimiliki seseorang sebagai hal-hal magis dan menjadi sebuah keberuntungan.

  Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar ini ceritanya mudah untuk dipahami dan ceritanya juga menarik.

Jumat, 26 Maret 2021

UNTAIAN KRITIK PUISI

"ULAMA ABIYASA TAK PERNAH MINTA JATAH" 

Karya: M. Shoim Anwar


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

panutan para kawula dari awal kisah

ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia

tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam  hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga 

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Ulama Abiyasa bertitah 

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara 

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama 

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua 

datanglah jika ingin menghaturkan sembah 

semua diterima dengan senyum mempesona 

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya 

mintalah arah dan jalan sebagai amanah 

bukan untuk dikembangkan sebagai bungah kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Penghujung Desember 2020.


Desember, 2020



TELAAH PUISI "ULAMA ABIYASA TAK PERNAH MINTA JATAH"

Puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas merupakan sebuah puisi yang menceritakan tentang keberadaan seseorang yang mempunyai akhlak baik, jujur dan tidak mengharapkan apapun tehadap apa yang ia lakukan serta mampu bertanggung jawab. Puisi tersebut memiliki tiga bait yang masing-masing bait memilik baris yang berbeda-beda. bait pertama terdiri dari 8 baris, dan bait kedua terdiri dari 6 baris, sedangkan pada bait ketiga jumlah barisnya terdiri dari 16 baris. 

Berbicara mengenai makna dalam setiap bait pada puisi di atas dapat dijabarkan sebagai berikut.

Pada bait pertama, hal yang diungkapkan adalah bahwa dalam bait pertama tersebut terdapat seseorang yang cukup baik untuk dijadikan panutan layaknya seorang guru yang bisa dijadikan teladan bagi para siswa-siswinya, begitupula sosok Ulama Abiyasa yang diungkap dalam puisi tersebut yang memiliki sikap jujur dan tidak meminta imbalan sedikitpun, serta tidak tergiur dengan singgasana atau jabatan yang dipandang. hal itu terlihat dalam bait berikut: 

Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

panutan para kawula dari awal kisah

ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia

tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Sedangkan pada bait kedua pada puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas, menceritakan tentang perilaku yang ditunjukkan oleh sosok Ulama Abiyasa yang sangat sopan dalam bertutur kata, sehingga hal tersebut menjadikannya dihormati kalangan masyarakat. hal tersebut terlihat dalam bait berikut yang berbunyi: 

Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam  hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga 

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Pada bait ketiga pada puisi di atas menceritakan tentang ketidakmauan Ulama Abiyasa untuk diminta menjadikan penguasa karena ia sama sekali tidak tergiur dengan jabatan atau singgasana seorang raja, karena terpujinya perilaku Ulama Abiyasa tersebut sorang raja sampai hormat, tunduk dan malu terhadapnya. hal tersebut tertuang dalam bait yang berbunyi: 

Ulama Abiyasa bertitah 

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara 

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama 

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua 

datanglah jika ingin menghaturkan sembah 

semua diterima dengan senyum mempesona 

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya 

mintalah arah dan jalan sebagai amanah 

bukan untuk dikembangkan sebagai bungah kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Penghujung Desember 2020.


Berdasarkan keseluruhan puisi yang berjudul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah" di atas, keberadaan puisi tersebut masih sesuai dengan kehidupan yang ada saat ini. hal tersebut terlihat ketika seseorang hendak mencalonkan diri sebagai calon Kepala Desa, Camat, atau bahkan Bupati yang seringkali mendatangi seorang yang dirasa memiliki kepribadian yang baik serta ilmu yang luas untuk dimintai sesuatu hal dengan hanya bertujuan untuk mendapatkan suara banyak dan memberikan imbalan terhadap ulama yang didatangi. namun, tekadang ada sosok ulama yang justru menolak dengan imbalan yang diberikan mengingat sangat berpegang teguh pada agama yang dianut, sehingga ia hanya mau memberikan nasihat untuk dapat menjaga amanah ketika menjadi seorang pemimpin. 

Jumat, 19 Maret 2021

PERCIKAN KRITIK PUISI

ULAMA DORNA NGESOT KE ISTANA

Karya M. Shoim Anwar 

 

 Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

 

Desember, 2020

 

Kritik Puisi "ULAMA DORNA NGESOT KE ISTANA" Karya M. Shoim Anwar

Tahukah kalian apa puisi itu? 

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang cukup digemari oleh kalangan remaja dalam mengekspresikan dirinya atau bahkan diri seseorang yang hendak diekspresikan, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam pengungkapan sebuah perasaan yang ditunjukkan dalam bentuk puisi tidak selamanya memiliki makna atay arti yang jelas namun justru seringkali terdapat makna-makna yang tersirat sehingga untuk memahaminya kita perlu mengetahui setiap kata yang mewakili perasaan yang dituangkan dalam bentuk kalimat. 

Berbicara mengenai sebuah kritik puisi, kritik puisi merupakan sebuah upaya untuk menelaah suatu karya agar dapat memberikan sebuah introspeksi dalam diri seorang penulis dengan memberikan asumsi atau persepsi ketika membaca suatu karya tersebut sehingga dengan adanya kritik tersebut, diharapkan suatu karya yang diterbitkan selanjutnya menjadi sebuah karya yang lebih epik sehingga minat baca dari para penikmat karya sastra akan semakin kuat. 

Puisi yang berjudul "Ulama Dorna Ngesot Ke Istana" ini masih membicarakan mengenai keberadaan seorang petinggi dalam suatu daerah yang digeluti oleh seorang yang kelihatan berparas apik namun memiliki keinginan yang ia akan berusaha memperolehnya dengan berbagqi hal untuk meninggikan martabatnya, apapun keinginanan yang dapat menguntungkan dirinya akab ia lakukan.  hal itu terlihat dalam bait pertama yang berbunyi: 

Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

 

Berdasarkan pengalan puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan tokoh seorang ulama yang dimaksudkan dalam puisi tersebut hendak mempertaruhkan segala yang ia memiliki dengan berharap pada suatu janji yang penuh kesuraman  dari sekelompok orang, dan bersikap seolah-olah istana atua sebuah pimpinan wilayah melindungi segala apa yang ia perbuat, sehingga hal itu berdampak pada munculnya perlakuan yang buruk terhadap seorang disekelilingnya dengan memasukkannya ke dalam penjara. 

Keberadaan puisi ini sangat berkaitan dengan keberadaan seseorang yang apabila kita lihat dalam dunia sekarang banyak seseorang yang berpura-pura baik terhadap sebuah pimpinan, namun sebenarnya di belakang ada niat terselubung yang ingin meninggikan martabatnya dengan cara menggulingkan seorang pemimpin yang dianutnya.  dalam mengharapkan sebuah tahta atau jabatan semata terkadang seseorang justru memilih untuk menikmati tonggak kekuasaan yang diduduki daripada tanggungjawab terhadap apa yang ia emban. begitu juga sebaliknya seseorang yang dianggap kalangan itu baik tidak ada niat untuk membenarkan dengan memberikan arahan dengan baik, namun yang sering justru ingin bersaing demi mendapatkan kekuasaan semata. 

 

 

Jumat, 12 Maret 2021

UNTAIAN KRITIK PUISI "Dursasana Peliharaan Istana"


"DURSASANA PELIHARAAN ISTANA"

M. Shoim Anwar


Dursasana adalah durjana peliharaan istana

tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila

saat masalah menggelayuti tubuh negara   

cara terhormat untuk mengurai tak ditemukan jua

suara  para kawula melesat-lesat bak anak panah 

suasana kelam  bisa  meruntuhkan penguasa

jalan pintas pun digelindingkan roda-roda gila

dursasana  diselundupkan untuk memperkeruh suasana

kayak jaka tingkir menyulut kerbau agar menebar amarah

atau melempar sarang lebah agar penghuninya tak terima  

lalu istana punya alasan menangkapi mereka

akal-akalan purba yang telanjang menggurita

saat panji-panji negara menjadi slogan semata

para ulama  yang bersila di samping raja

menjadi penjilat pantat yang paling setia     

sambil memamerkan para pengikut yang dicocok hidungnya 

 

Lihatlah  dursasana

di depan raja dan pejabat istana

lagak polahnya seperti paling gagah

seakan hulubalang paling digdaya

memamerkan segala kebengalannya

mulut lebar berbusa-busa

bau busuk berlompatan ke udara

tak bisa berdiri  tenang atau bersila sahaja  

seperti ada kalajengking mengeram di pantatnya   

meracau mengumbar kata-kata

raja manggut-manggut melihat dursasana

teringat ulahnya saat menistakan wanita

pada perjudian mencurangi  tahta

sambil berpikir memberi tugas selanjutnya

 

Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika menggunakan jasa dursasana untuk menghina

merendahkan martabat para anutan kawula

menista agama dan keyakinan para jamaah   

dursasana dibayar  dari  pajak kawula dan utang negara

akal sehat   tersesat di selokan belantara   

otaknya jadi sebatas di siku paha

digantikan syahwat kuasa menyala-nyala  

melupa sumpah yang pernah diujarnya  

para penjilat berpesta pora

menyesapi cucuran keringat para kawula


Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika tak mampu menjaga citra negara

menyewa dursasana untuk menenggelamkan kawula 

memotong lidah dan menyurukkan ke jeruji penjara

berlagak seperti tak tahu apa-apa

menyembunyikan tangan usai melempar bara

ketika angkara ditebar dursasana

dibiarkan jadi  gerakan bawah tanah  

tak tersentuh hukum  karna berlindung di ketiak istana

 

Dursasana yang jumawa

di babak  akhir baratayuda

masih juga hendak membunuh bayi tak berdosa

lalu pada wanita yang pernah dinista kehormatannya

ditelanjangi dari kain penutup tubuh terhormatnya

ingatlah, sang putra memendam luka membara

dia bersumpah akan memenggal leher dursasana hingga patah

mencucup darahnya hingga terhisap sempurna    

lalu  si ibu yang tlah dinista martabatnya 

hari itu melunasi janjinya:  keramas  dengan darah dursasana.


Surabaya, 2021. 


Untaian Kritik Puisi "Dursasana Peliharaan Istana" karya M. Shoim Anwar.  

Puisi karya M. Shoim Anwar yang berjudul "Dursasana Peliharaan Istana" merupakan sebuah untaian kalimat yang menceritakan tentang sosok tokoh bernama Dursasana yang memiliki karakter antagonis yang selalu memiliki keinginan untuk mengadu domba masyarakat serta membuat kegaduhan atas dasar pemimpin istana. Siapakah Dursasana?

Dalam cerita pewayangan mahabharata, Dursasana merupakan salah satu tokoh pewayangan kurawa atau salah satu putra dari Raja Drestarasta dengan putri Gandari yang  tinggal  di istana Hastinapura. Berbicara mengenai maksud dan makna dari puisi di atas, dapat dijabarkan sebagai berikut. 

Maksud dan Makna Puisi "Dursasana Peliharaan Istana" adalah tentang keberadaan seorang yang angkuh bernama Dursasana yang selalu membuat kegaduhan dengan cara selalu mengadu domba dengan tujuan untuk memecah belah masyarakat demi kepentingan pribadi. Namun, Dursasana disini merupakan alat dari sebuah pemerintahan yang berkeinginan untuk mengukuhkan kekuasaan pemerintahannya dengan memanfaatkan Dursasana yang memiliki sifat licik dan sangat kejam. Segala hal yang diperintahkan oleh pemimpin akan selalu dilakukan oleh Dursasana yang memiliki karakter antagonis itu, tidak peduli siapa yang menjadi targetnya bahkan apabila harus melecehkan kehormatan seseorang serta membunuhnya akan ia lakukan. hal itu dibuktikan dalam puisi di atas dalam bait terakhir berikut ini:

Dursasana yang jumawa

di babak akhir baratayuda

masih juga hendak membunuh bayi tak berdosa

lalu pada wanita yang pernah dinista kehormatannya

ditelanjangi dari kain penutup tubuh terhormatnya

ingatlah sang putra memendam luka membara

dia bersumpah akan memenggal leher dursasana hingga patah

mencucup darahnya hingga terhisap sempurna

lalu si ibu yang tlah dinista martabatnya 

hari itu melunasi janjinya: keramas dengan darah dursasana. 

Pada bait tersebut dapat membuktikan bahwa sosok Dursasana benar-benar sangat licik dan kejam dengan berani melakukan berbagai hal tanpa harus memikirkan dampak yang akan diterima atas perbuatan yang dilakukan. 

Adakah kelebihan dan kekurangan dari puisi di atas?

Berbagai karya sastra telah diterbitkan di dalam dunia ini, salah satunya adalah karya sastra dalam bentuk puisi. Tentu, dalam setiap karya sastra yang telah dibuat dan diterbitkan tidak akan terlepas dari adanya kelebihan dan kekurangannya, baik dilihat dari pemilihan diksi, makna yang tertuang dalam ujaran, dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan sebuah kritikan yang bersifat membangun untuk mengoreksi diri penulis serta bertujun untuk memperoleh perbaikan dalam menulis atau menerbitkan sebuah karya sastra berikutnya. begitu juga dalam puisi yang berjudul "Dursasana Peliharaan Istana" ini juga tidak bisa lepas dari adanya kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihan dalam puisi di atas terlihat dari keberadaan rima dalam puisi tersebut yaitu sama-sama memiliki rima akhiran "a". hal itu membuktikan bahwa penulis sangat pandai menempatkan setiap kata yang ditulis sehingga tersusun indah. hal itulah yang dapat memancing daya tarik bagi khalayak untuk membacanya. Sedangkan kekurangan dalam puisi tersebut terletak pada pemilihan diksi atau istilah-istilah yang dipakai dalam puisi tersebut, mengingat apabila puisi ini dihadapkan kepada orang yang baru mengenal keberadaan sastra, maka tentu akan sulit untuk memahaminya. Oleh karena itu, sebaiknya untuk pemakaian istilah lebih disederhanakan, sehingga diharapkan dapat mempermudah memberikan pemahaman bagi setiap khalayak yang hendak membacanya. Lalu, bagaimanakah kaitan antara puisi yang berjudul "Dursasana Peliharaan Istana" dengan kehidupan nyata saat ini?

Sebagaimana yang telah tertuang dalam puisi di atas tentang janji-janji yang tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh seorang pemimpin terhadap rakyatnya dapat kita temukan dalam kehidupan saat ini. Hal itu dapat dibuktikan dengan keberadaan dari beberapa seorang pejabat pemerintahan yang lebih memikirkan kepuasan dirinya daripada janji yang telah diucapkan sebelumnya. Tentu, kita semua tau bahwa setiap dilaksanakan pemilihan terhadap wakil rakyat dalam sebuah negara, seringkali para calon memberikan rayuan dan tipuan kepada rakyat-rakyat yang memeroleh hak pilih dengan menjanjikan berbagai hal ketika menjadi pemenang. Namun, tidak sedikit kita menjumpai para pemimpin terpilih yang sebelumnya dalam kurun waktu kampanye telah melontarkan beribu-ribu kalimat tipuan yang bertujuan untuk mengelabuhi rakyatnya agar dpat memilih dirinya justru tidak dapat merealisasikan janji yang telah diucapkan. Bahkan para pemimpin terpilih tersebut justru memikirkan kepuasan terhadap dirinya. Terlihat dalam berbagai kasus korupsi yang kita jumpai, hal itu merupakan salah satu bentuk dari kesamaan antara Dursasana yang diceritakan dalam puisi di atas dengan kenyataan yang terjadi saat ini yang saling tidak memikirkan nasib dari rakyat kecil. 


KRITIK/ESAI SASTRA DARI KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR (“Sorot Mata Syaila”, “Sepatu Jinjit Aryanti” , “Bambi dan Perempuan Bersel...